Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

√ Astaga! Gti Indonesia Tempati Posisi 38 Dunia

Konten [Tampil]
 Teroris merupakan salah satu fenomena dunia yang sampai sekarang masih menjadi bahaya √ Astaga! GTI Indonesia Tempati Posisi 38 Dunia

Teroris merupakan salah satu fenomena dunia yang sampai sekarang masih menjadi ancaman. Teror sanggup terjadi kapan saja, di mana saja dengan sasaran siapa saja. Banyak kalangan menilai agresi t3r0risme banyak merugikan negara, tidak hanya dari sisi infrastrukturnya saja, tetapi juga dari sisi kemanusiaan.

Kini, hampir tidak ada lagi negara di dunia yang terhindar dari bahaya t3r0ris. Apabila sebuah negara dari aspek pemerintahannya tidak disetujui, boleh jadi t3r0ris akan terbentuk dalam wujud pemberontakan. Di lain kondisi, t3r0ris juga terbentuk akhir ketidakadilan kebijakan pemerintah sehingga pihak yang merasa dirugikan berkoloni sebagai pemberontak dengan upaya untuk mengkudeta negaranya sendiri. Selain dua kondisi tadi, yang juga menonjol ke permukaan dunia ketika ini yakni motif perbedaan agama dan ekonomi. Banyak masalah t3r0risme yang terjadi di beberapa negara semisal timur tengah, motifnya yakni perbedaan keyakinan dengan buntutnya penguasaan pusat-pusat ekonomi.

Institute for Economics and Peace (IEP) ternyata telah melaksanakan studi empiris mengenai fenomena t3r0risme di dunia. Salah satu produk statistik yang mereka kenalkan yakni Indeks Risiko Terorisme (IRT) atau Global Terrorism Index (GTI) yang mulai konsisten dipublikasikan setiap tahunnya. IEP memandang perlu adanya pengukuran fenomena t3r0risme di dunia ini untuk melaksanakan pemetaan terhadap insiden t3r0risme untuk setiap negara dengan indikator-indikator tertentu. Di samping pemetaan, GTI sekaligus menjadi ukuran seberapa besar imbas t3r0risme terhadap perekonomian sebuah negara termasuk di dalamnya tren, ukuran kelompok-kelompok serta jaringan t3r0ris serta imbas kemanusiaan yang ditimbulkannya.

2015, masalah t3r0risme di dunia 
meningkat 650%

Perlu kita ketahui bahwa pertumbuhan t3r0risme di dunia mengatakan tren yang meningkat setiap tahunnya. Yang terparah yakni di tahun 2015 di mana puluhan ribu insan menjadi korban meninggal dan lainnya terluka. Jumlah masalah t3r0risme pada tahun 2015 tercatat meningkat sampai 650 persen dibandingkan tahun 2014. Salah satunya disebabkan munculnya ISIS atau ISIL di Timur-Tengah.

Berdasarkan publikasi IEP tahun 2017, sekitar 76 negara memang mengalami pemulihan kondisi dari sebelumnya. Kendati demikian, masih ada sebanyak 53 negara yang terjerembab dalam bahaya t3r0risme. Lantas bagaimana dengan Indonesia?

GTI Indonesia pada tahun 2016 berada pada urutan ke-38 terparah dari 130 negara yang menjadi sampel pemantauan IEP. Besar GTI Indonesia yakni 4,429 dari skala 0 - 10. Skala 10 mengatakan kondisi GTI terparah dengan imbas yang besar, sedangkan 0 mengatakan GTI paling baik atau higienis dari imbas t3r0risme.

 Teroris merupakan salah satu fenomena dunia yang sampai sekarang masih menjadi bahaya √ Astaga! GTI Indonesia Tempati Posisi 38 Dunia

Secara grafis, kondisi GTI negara-negara di dunia disajikan sebagai berikut.
Bila kita amati pada bulat kuning, GTI Indonesia terbilang cukup parah. Artinya, GTI Indonesia masih lebih tinggi ketimbang negara ASEAN yang lain, contohnya Malaysia, Laos dan Myanmar. GTI yang mendekati nol mengatakan imbas t3r0risme di Indonesia besar, utamanya di bidang ekonomi dan kemanusiaan.
 Teroris merupakan salah satu fenomena dunia yang sampai sekarang masih menjadi bahaya √ Astaga! GTI Indonesia Tempati Posisi 38 Dunia


Coba kita amati, bahwa pada tahun 2015 saja, cukup banyak letupan-letupan insiden t3r0risme yang terjadi di Indonesia. Pemerintah dalam hal ini Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) tampaknya belum memiliki data yang valid untuk memetakan sebaran t3r0risme di Indonesia. Jaringan t3r0ris pun masih sulit untuk dipetakan serta belum tersedianya database untuk perhitungan soal kerugian negara akhir insiden t3r0risme yang terjadi setiap waktunya. Atas landasan inilah, BNPT menggandeng Badan Pusat Statistik (BPS) untuk membangun sebuah data pemantauan wacana t3r0risme di Indonesia yang telah digulirkan tahun ini melalui Survei Risiko Terorisme (SRT).

Di negara-negara timur-tengah semisal Afganistan, Irak, Syria, t3r0risme terjadi akhir adanya kelompok pemberontak pemerintah serta militan ISIS, di Indonesia nampaknya sedikit berbeda. Dalam beberapa waktu, insiden t3r0risme justru belum terang penyebabnya. Namun yang jelas, jejak-jejak yang disisakan oleh pelaku teror sendiri kebanyakan adanya perilaku militan terhadap negara dengan hasrat mendirikan negara berbasis agama tertentu. Kalau kita amati pula, sasaran pelaku teror juga beragam, mulai dari hotel dan kafe turis absurd sampai petugas keamanan, contohnya polisi. Motif-motif inilah yang semestinya perlu dipetakan sekaligus pemantauan gerakan separatis t3r0risme di Indonesia. Dengan adanya database t3r0risme yang valid dan komprehensif, dibutuhkan pemerintah sanggup lebih jeli dalam melihat gerakan t3r0ris. Tidak hanya itu, pemerintah juga sanggup pula mengambil kebijakan di bidang keamanan dan menelusuri motif-motif terjadinya t3r0risme di Indonesia.(*) Sumber http://www.ngobrolstatistik.com/